STRUKTUR PC IPM PAMULANG 2011/2013

KETUA UMUM : ANDHINI CITRA PERTIWI
KABID PERKADERAN : FALAHUDIN RACHMAN
KABID KDI : FAIDH FADHILAH
KABID PIP : LAILY DIAN TANTI
KABID ASBO : MIFTAH AWALUDIN A.
KABID ADVOKASI : RIFQY AZMY AL-HANIF
KABID IPMAWATI : VERA RACHMA

SEKRETARIS UMUM : TARA PRAYOGA
SEKBID PERKADERAN : JIHANITA DIANSABILA
SEKBID KDI : EZA PRIMA IMAN CAHYA
SEKBID PIP : HANIFIA ZAHRA SAKINA
SEKBID ASBO : LUTFI GUSRIZAL
SEKBID ADVOKASI : NAJIYAH FAHMA
SEKBID IPMAWATI : FILDZAH RIZKI

BENDAHARA UMUM : MUTIA KHANZA
WK.BENDAHARA UMUM : BADZLINA EGSA

ANGGOTA PERKADERAN : KEVIN IVANDRA, RENATA ZUHA, M. ANDI WICAKSONO, FARHAN, DINDA INDRIANI, ANDINTA SUCI MAHARANI.

ANGGOTA KDI : AKMAL MONTESKI, M. ARIF RAMADHAN, KHOIRUL MIFTAH, NABILA HANIFA, RISA MAGFIROH, EMILI.

ANGGOTA PIP : TAUFIK AKBAR, MARSHA KHAIRUNNISA, MEITA DWIJAYANTI, NASRUL ADIE, M. ZULFIKAR A.
ANGGOTA ASBO : LUTHFANA FAZAR DAUD, EKA PUTRA PRASETYA, ADIS R., TRI FEBRIANI, M. ARIEF RAVENDRA.
ANGGOTA ADVOKASI : WALIKA ALYA AKMAL, RISKA LARASATI, WIDYA TRIASTUTI, ARUM PUSPORINI, DINDA NUR SAGITA.
ANGGOTA IPMAWATI : HENNY VIVIANI, RISKI AMELIA, SUCI, NANETY FARAS, EVERESTY RINJANI, YOLANDA HANNY.

Courtesy by: Pimpinan Cabang IPM Pamulang
Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Saturday, 31 December 2011

Al-Qur'an jadi di Bakar 25 Desember 2011


Apa yang mereka pikirkan tentang pembakaran Ayat Suci Al_Qur’an? Saya tidak menyangka ternyata Kitab Suci Agama saya di injak-injak, dalam Agama saya saling menghargai dan menjunjung tinggi agama lain adalah hal yang mulia dan tidak seperti orang-orang yang membakar kitab suci itu, ya Allah ya robbi, maafkanlah mereka mungkin mereka hilap. Sangat di sayang kan orang-orang tersebut di berikan usia atau hidup oleh sang pencipta tetapi di pergunakan untuk membuat kekacauan fatal. Mudah-mudahan dari semua ini kita sebagai orang muslim atau umat manusia yang mempunyai Agama selain Agama islam menyadari betapa tidak pentingnya hal tersebut di lakukan. Saya berharap matiah orang tersebut yang bernama Terry Jones yang membuat provokasi tidak penting tersebut.

Ya Allah Ampunilah mereka karena Islam tidak pernah membenarkan adanya kebencian dalam diri tiap manusia sekalipun ia kafir karena islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin.namun, islam tidak akan terasa sebagai agama rahmatan lil’alamiin ketika ia tidak diterapkan sebagai aturan kehidupan dalam naungan daulah khilafah rasyidah..

[+/-] Selengkapnya...

Sunday, 17 October 2010

Ada Mayat di Kubah Mesjid Nabi

Selain Masjid Nabawi, tempat bersejarah dan penuh berkah lainnya di kota Madinah adalah kompleks pemakaman Baqi. Di tempat itulah dimakamkan para imam ahlulbait, keluarga nabi, dan juga para sahabat termasuk kalangan syuhada. Dahulu, tempat tersebut cukup rapi dengan bangunan dan kubah tempat orang berkumpul untuk berziarah. Sampai akhirnya, kelompok Wahabi menguasai Jazirah Arab.


Secara bertahap dan dengan alasan yang rapuh, pada hari Rabu 8 Syawal 1345 H bertepatan dengan 21 April 1925, pemakaman Baqi dihancurkan secara total oleh Raja Abdul Aziz dari Arab Saudi. Pada tahun yang sama, ia juga menghancurkan makam manusia suci di Jannatul Mualla (Mekkah) di mana ibunda Nabi Muhammad (Siti Aminah as.), istri Nabi, kakek dan leluhur Nabi dikuburkan. (Baca: Makam Keluarga dan Sahabat Nabi Dihancurkan).

[+/-] Selengkapnya...

Monday, 27 September 2010

Kesetaraan Pahala Wanita dan Pria dalam Islam

Ketika begitu banyak hadist yg mengungkapkan keutamaan sholat berjamaah di masjid,berjihad di jalan Allah,dan hal2 lainnya untuk para pria,maka para wanita bingung,bagaimana bisa mengejar pahala yg disediakan bagi para pria ini? hadist2 itu antara lain adalah :

Rasulullah bersabda “Karuniailah mereka yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan sinar yang sempurna di hari kiamat” (H.R. Abu Dawud & Trimidzi).

Dalam riwayat Utsman Rasulullah s.a.w. bersabda “Barang siapa shalat Isya’ dengan berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat selama setengah malam, barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia laksana shalat semalam suntuk” (H.R. Muslim dll.)

“Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajat.” (HR. Muslim no. 1553)

[+/-] Selengkapnya...

Jaga 7 Sunnah Rasul

"Cerdasnya orang yang beriman adalah dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.

Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup, tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.

Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

Pertama: tahajjud, karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya. Kedua: membaca Al-Qur'an sebelum terbit matahari Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur'an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.

Ketiga: jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke mesjid, karena mesjid merupakan pusat keberkahan, bukan kerana panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan mesjid Allah.

[+/-] Selengkapnya...

Esensi dari Idul Fitri


Sekarang kita hidup pada masa yang jauh dari Nabi dan para sahabat, meski agama yang kita anut sama, yakni Islam. Pilar-pilarnya juga sama tetapi nilai pemaknaannya yang sangat berbeda.

Esensi keberagamaan untuk menjunjung tinggi martabat dan kemerdekaan manusia telah dipahami keliru dan melenceng dari yang seharusnya. Tragedi kemanusiaan entah karena kelaparan, karena tindak kekerasan dan kebrutalan, bahkan gara-gara berebut sembako dan uang sedekah menjadi pemandangan memilukan sekaligus memalukan.

Itu semua adalah bukti bahwa keberagamaan kita telah kehilangan esensinya. Ini juga yang menjadi sebab mengapa umat Islam di mana pun gagal menjadi umat terbaik, "khairu umat" yang bermartabat.

Dalam konteks kita ber-idul fitri yang berarti kembali menjadi orang-orang bersih dan suci lewat latihan beribadah satu bulan penuh, kita dituntut memiliki kasalehan ritual maupun kesalehan sosial.

Kesalehan ritual bisa dilakukan dengan pembudayaan shalat berjamaah, yang merupakan gerakan memperkokoh tali silaturrahim. Sedangkan kesalehan sosial bisa melalui jendela-jendela yang diajarkan Islam untuk mendidik umat mengembangkan kepedulian sosial lebih tinggi sehingga kesenjangan sosial ekonomi bisa diatasi.

Orang-orang di luar Islam yang mengagumi kebesaran kitab suci Alquran seringkali merasa aneh terhadap sikap umat Islam, mengapa di masjid sering hilang motor, telepon genggam, laptop, bahkan sandal. Padahal masjid itu tempat suci. Mengapa juga umat Islam malas, padahal banyak ayat mengecam siapa saja yang mengabaikan waktu.

Tolong menolong memang dianjurkan Islam sebagai wujud solidaritas, tetapi apa yang terjadi? Sedekah kita seringkali menjatuhkan martabat manusia bahkan mengorbankan kehormatan Muslim saat pembagian kupon sembako gratis tidak dikelola secara baik. Apalagi sembako yang dibagikan oleh penganut agama lain, sungguh menjadi pemandangan ironis betapa lemahnya kehormatan umat.

Ingat Nabi segera bertindak saat seorang pemuda datang meminta uluran tangan. Nabi tidak membiarkan ada umatnya menengadahkan tangan sebab itu bukan gambaran masyarakat berbudaya dan terhormat.

Satu satunya barang milik pemuda itu dilelang agar bisa membeli kapak jelek yang diperbaiki sendiri oleh tangan nabi. Kapak inilah yang akhirnya menyelamatkan sang pemuda dari kehinaan yakni menempatkan tangannya di bawah.

Nabi juga mengingatkan bahwa yang termasuk manusia termulia adalah orang-orang susah yang tidak mempertontonkan kesusahannya. Kemuliaan serupa tentu dimiliki orang berada yang tidak memamerkan keberadaannya, meskipun melalui jalan kebaikan seperti atas nama membagikan zakat atau yang sejenisnya.

Lihat pula bagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab ketika malam-malam ia datangi sendiri secara diam-diam rumah para warga yang kesusahan. Ia kirimkan langsung apa yang menjadi haknya para kaum lemah.

Umar menjaga martabat mereka hingga tidak perlu menghinakan diri menjadi tangannya di bawah, karena hal ini akan merusak jati diri dan perasaan yang bersangkutan dan merusak pemandangan umum apalagi disorot televisi.

Aneh yang terjadi di masyarakat kita justru menjadi tontonan harian. Di mana letak kesuksesan pengendalian diri dalam hubungan kemanusiaan. Fenomena-fenomena ini rasanya telah menjadi bukti bahwa ada yang salah dalam pembelajaran agama selama ini. Sehingga terasa ada jarak antara gagasan ideal Islam dengan realitas kehidupan nyata.

Apa yang salah dari pola pembinaan dan perawatan sikap beragama kita? Seolah bangsa Indonesia tercinta ini makin terjauh dari petunjuk Alquran, meskipun di sana-sini keramaian tempat-tempat ibadah makin marak. Tetapi itu hanya seremonial belum yang esensial.

Sesuai hakikat idul fitri sebagai hari kembalinya kesadaran manusia pada fitrah kemanusiaannya, fitrah kemanusiaan kita adalah beriman bertauhid. Tauhid tidak hanya dipahami esanya Tuhan. Tauhid juga berarti satunya kehidupan dunia dan akhirat, satunya kehidupan manusia tanpa membedakan suku, ras agama maupun adat dan bahasa.

Rasullah bersabda, "Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, pasti makhluk yang ada di langit akan menyayangimu."

Ibadah puasa yang akan kita selesaikan nanti ditutup dengan kewajiban membayar zakat fitrah yang harus dibayar sebelum shalat Id. Ini mengandung sebuah tata krama dan etika bahwa kita harus mendahulukan hak kaum lemah, sebelum berdzikir kepada Allah.

Inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah dalam surat al-Ala ayat 14-15, "Qad aflaha man tazakka wa dzakarasma rabbihi fa shalla." Artinya : Sungguh berbahagia orang yang telah membersihkan diri dengan membayar zakat, lalu menyebut nama Tuhannya, dan kemudian mengerjakan shalat.

Ajaran tersebut sangat jelas menekankan pentingnya ketertiban hidup baik tertib ritual maupun tertib sosial. Melalui hidup tertib itu kenyamanan, keamanan dan kedamaian akan terwujud dengan mudah. Maka Id bagi orang berpuasa harus makin memantapkan kita meneladani sifat-sifat Allah dan nabi yang Agung.

Nabi tampil sebagai advokasi kaum lemah, tampil dengan kelembutan bukan hanya terhadap manusia tetapi juga terhadap binatang dan benda-benda mati. Oleh karena itu rangkaian Id, harus dilanjutkan dengan silaturrahim yaitu kesediaan memberi dan meminta maaf, sehingga tali persaudaraan yang renggang kembali menguat dan kokoh.

*) Ketua Program Pascasarjana Pemikiran Agama pada Universitas Islam Jakarta

[+/-] Selengkapnya...

Sunday, 19 September 2010

Pesantren Waria

Taukah anda kalo waria memiliki pesantren? Bagi yang belum tau, silahkan simak Pesantren Waria dibawah ini

Di salah satu gang sepi di Yogyakarta, ada sebuah salon diubah jadi pesantren. Pemiliknya Mariyani, seorang waria paruh baya. Ini tempat aman bagi kelompok lesbian, gay dan transeksual, LGBT, untuk berdoa dan berdiskusi agama. Indonesia, sampai saat ini, belum ramah LGBT.

Reporter KBR68H Rebecca Henschke mengunjungi pesantren unik ini bulan ramadan lalu.




Hampir pukul 6 sore. Saatnya buka puasa dan shalat Maghrib. Salon Mariyani di Kampung Notoyudan, Yogyakarta, ikut dipermak. Kaca-kaca disembunyikan di balik tirai. Sajadah dihamparkan di atas karpet. Beberapa Al Quran tampak menggantikan posisi majalah fashion yang semula ada di rak. Mariyani membawa kotak makanan.

"Saya mengadakan pengajian dengan anak yatim piatu dari Wonosari dan Giwangan, ada 90 anak yatim piatu. Bahwasanya saya bersyukur kepada Allah SWT saya diberi umur 50 tahun. Alhamdulillah. Dan ini bulan Ramadhan. Saya ingin dengan anak-anak yatim piatu buka bersama dan pengajian. Untuk mengucapkan syukur kepada Allah saya sudah diberi umur 50 tahun. Saya harus cari jalan yang baik. Cari hidup yang baik. Karena pasti tidak lama lagi saya dipanggil Allah SWT."


Kehidupan lain
Sebagai waria, Mariyani telah melewati banyak hal. Mulai dari mengamen di jalanan, sampai bergelut di dunia tata rias, bahkan menjual diri di pinggir jalan. Tapi malam ini, Mariyani nampak beda. Ia memakai baju panjang yang sederhana, jilbab, tanpa riasan wajah.

Foto-foto yang dipajang di salon memperlihatkan sisi kehidupan dia yang lain. Salah satunya, Mariyani memakai baju ketat berwarna krem dengan bahu terbuka. Riasan wajahnya tebal, dengan lipstik merah terang dan sapuan mata warna biru.

"Saya merasa waktu itu punya pacar, pacar saya nikah dengan perempuan. Lalu saya masuk ke dunia malam. Menjual diri. Jadi saya pakai pakaian perempuan. Saya hidup sendiri, cari nafkah sendiri, untuk sakit biaya sendiri, untuk makan dan kos juga. Saya keliling ke Jakarta; ke Taman Lawang, Semarang, Surabaya."

Kesempatan kerja bagi kaum transeksual atau waria terbatas. Mereka yang ada di Salon Mariyani malam ini kebanyakan bekerja sebagai Pekerja Seks Komersil, pengamen jalanan, atau bekerja di salon kecantikan.

"Sampai sekarang saya merasa waria itu bukan pilihan hidup. Kalau itu pilihan hidup, saya disuruh pilih, saya tidak mau jadi waria. Tapi ternyata memang kenyataan itu bukan pilihan dan nasib saya begini, memang Allah memberi saya hidup begini. Saya bersyukur pada Tuhan. Tergantung waria yang masih muda, saya juga dulu keluar malam. Semakin lama, berpikir kita harus jalan yang baik. Ditanya temen, kenapa kamu keluar malam, kenapa tidak buka salon? Dulu saya tidak menghiraukan. Ternyata benar juga teman-teman memberitahukan jalan yang baik. Ternyata buktinya saya bisa jalan yang baik."

Islam

Apa yang membuat Mariyani tertarik dengan Islam?

"Semua agama itu baik. Tidak ada agama yang jelek, tinggal manusianya aja yang jelek. Tiba-tiba saya ikut pengajian, ke mesjid. Tidak ada yang menyuruh. Dari hati nurani saya sendiri. Saya ajak temen-temen beribadah. Biarpun ulama lain mengatakan ibadahnya waria tidak diterima Tuhan, waria itu haram, waria itu harus sembuh, itu terserah. Yang penting saya manusia, saya waria juga manusia, saya punya hak beribadah. Diterima atau tidaknya itu urusan saya dengan Tuhan."

Sambil menangis, Mariyani meminta anak-anak yatim piatu untuk menghormati hak-hak para waria untuk masuk masjid dan menjalankan ibadah. Ia meminta mereka untuk tidak menggunakan kata kotor untuk waria, tapi melihat mereka sebagai manusia. Sebagaimana Tuhan melihat mereka.

Bagi Trias, 17 tahun yang hadir di acara buka puasa di Salon Mariyani, ini kali pertama dia berbincang dengan seorang waria.

"Ya, merasa agak senang karena berbeda daripada yang lainnya. Baru pertama kali."

Pondok pesantren ini berhasil menarik orang-orang Islam yang selama ini terpinggirkan. Uniknya, di sini disediakan sarung dan peci, juga mukena untuk sembayang. Peserta pesantren dibebaskan memilih pakai apa, mau beribadah sebagai laki-laki atau perempuan.

Wulan, waria berusia 45 tahun. Ia bekerja dengan salah satu kelompok bantuan HIV/Aids. Ia juga seorang Pekerja Seks Komersil, PSK.

"Saya asalnya orang Islam. Dari lahir, sejak kecil saya sudah jadi waria. Keluarga saya sudah nerima. Dari kecil saya belajar ngaji, belajar sembayang. Tapi sejak saya di Yogya sudah berapa tahun, saya belum pernah sembayang lagi. Sejak ada pondok pesantren ini saya bisa sembayang.

Pesantren ini mengubah hidup Wulan.

"Tertarik karena saya ingin belajar banyak tentang agama, tentang Al Quran. Karena selama ini saya jarang sembahyang. Karena belum siap saja. Apalagi saya dulu pekerja seks, jadi saya sudah untuk melakukan sembayang karena saya merasa saya ini kotor. Saya ada perubahan karena saya bisa menjalankan salat, membaca Al Quran biarpun gak lancar atau hafal bener. Tapi di situlah saya ada perubahan untuk melakukan itu, bangga dan tenang pikiran saya habis sembayang. Rejeki dari mana aja mudah untuk saya cari."

Kekerasan
Meski sebagian orang Indonesia mempraktikkan Islam secara moderat, tapi dari tahun ke tahun, aksi kekerasan terhadap mereka yang dianggap berbeda makin besar. Alhasil, kaum lesbian, gay dan transeksual LGBT kerap jadi sasaran sejumlah kelompok yang main hakim sendiri.

Maret lalu, sekitar 150 orang berkumpul di Surabaya, Jawa Timur. Di hotel itu akan diselenggarakan pertemuan aktivis LGBT dari seluruh Asia. Tapi pertemuan itu diusik dengan kedatangan kelompok garis keras yang menuntut supaya pertemuan itu dibatalkan. Para aktivis asing dan lokal itu juga diminta segera meninggalkan lokasi.

Homoseksualitas memang tak dilarang di Indonesia. Tapi Majelis Ulama Indonesia MUI menyatakan mereka haram. Yanti Syaganti, Ketua Organisasi Waria Indonesia. Ia juga hadir dalam buka puasa di Pondok Pesantren Waria di Yogyakarta.

"MUI mengatakan itu salah kaprah. Mari kita sama-sama buka Quran, sama-sama buka Tafsir. Ingat, sejarah tidak bisa dilupakan. Di zaman Nabi Luth, itu waria sudah ada. Kalau kaum waria adalah sahaja-nya Nabi Luth. Itu pengertian persepsi. Masalah haram dan tidak haram, itu tergantung Allah. Itu semua sama, tidak ada perbedaan. Oknum dari MUI itulah orang-orang yang picik yang selalu mengklaim atas nama agama. Waria juga punya agama!"

Talenta
Adzan Maghrib berkumandang dari mesjid terdekat. Kaum waria dan anak yatim yang tengah duduk bersama ini langsung berbuka puasa dengan seteguk minuman. Lantas mereka bersiap-siap salat.

Sajadah dihamparkan di lantai. Salah satu yang tengah bersiap salat adalah Novi. Kuku-kukunya dicat, rambutnya hitam panjang. Tapi hari ini ia salat sebagai laki-laki. Novi dibesarkan di sebuah keluarga yang, kata dia, fundamentalis Islam. Ia disekolahkan ke pesantren dan wajib berpakaian seperti laki-laki. Menyembunyikan identitas diri yang sebenarnya.

"Itu SMA kelas 2. Itu awalnya untuk senang-senang saja, pinjam punya teman saya, perempuan. Kita jalan-jalan ke mal, ke diskotik. Perasaannya happy, merasa tersalurkan. Dengan adanya pondok pesantren ini, Insya Allah waria gak dipandang jelek oleh masyarakat. Tapi mereka juga punya talenta lainnya. Bisa menari, bisa merias, punya pekerjaan lainnya. Waria juga ada yang bisa mengaji, ada yang bisa mengajarkan Al Quran."

[+/-] Selengkapnya...

Sunday, 12 September 2010

Idul Fitri dan Martabat Manusia

Sekarang kita hidup pada masa yang jauh dari Nabi dan para sahabat, meski agama yang kita anut sama, yakni Islam. Pilar-pilarnya juga sama tetapi nilai pemaknaannya yang sangat berbeda.

Esensi keberagamaan untuk menjunjung tinggi martabat dan kemerdekaan manusia telah dipahami keliru dan melenceng dari yang seharusnya. Tragedi kemanusiaan entah karena kelaparan, karena tindak kekerasan dan kebrutalan, bahkan gara-gara berebut sembako dan uang sedekah menjadi pemandangan memilukan sekaligus memalukan.

Itu semua adalah bukti bahwa keberagamaan kita telah kehilangan esensinya. Ini juga yang menjadi sebab mengapa umat Islam di mana pun gagal menjadi umat terbaik, "khairu umat" yang bermartabat.

Dalam konteks kita ber-idul fitri yang berarti kembali menjadi orang-orang bersih dan suci lewat latihan beribadah satu bulan penuh, kita dituntut memiliki kasalehan ritual maupun kesalehan sosial.

Kesalehan ritual bisa dilakukan dengan pembudayaan shalat berjamaah, yang merupakan gerakan memperkokoh tali silaturrahim. Sedangkan kesalehan sosial bisa melalui jendela-jendela yang diajarkan Islam untuk mendidik umat mengembangkan kepedulian sosial lebih tinggi sehingga kesenjangan sosial ekonomi bisa diatasi.

Orang-orang di luar Islam yang mengagumi kebesaran kitab suci Alquran seringkali merasa aneh terhadap sikap umat Islam, mengapa di masjid sering hilang motor, telepon genggam, laptop, bahkan sandal. Padahal masjid itu tempat suci. Mengapa juga umat Islam malas, padahal banyak ayat mengecam siapa saja yang mengabaikan waktu.

Tolong menolong memang dianjurkan Islam sebagai wujud solidaritas, tetapi apa yang terjadi? Sedekah kita seringkali menjatuhkan martabat manusia bahkan mengorbankan kehormatan Muslim saat pembagian kupon sembako gratis tidak dikelola secara baik. Apalagi sembako yang dibagikan oleh penganut agama lain, sungguh menjadi pemandangan ironis betapa lemahnya kehormatan umat.

Ingat Nabi segera bertindak saat seorang pemuda datang meminta uluran tangan. Nabi tidak membiarkan ada umatnya menengadahkan tangan sebab itu bukan gambaran masyarakat berbudaya dan terhormat.

Satu satunya barang milik pemuda itu dilelang agar bisa membeli kapak jelek yang diperbaiki sendiri oleh tangan nabi. Kapak inilah yang akhirnya menyelamatkan sang pemuda dari kehinaan yakni menempatkan tangannya di bawah.

Nabi juga mengingatkan bahwa yang termasuk manusia termulia adalah orang-orang susah yang tidak mempertontonkan kesusahannya. Kemuliaan serupa tentu dimiliki orang berada yang tidak memamerkan keberadaannya, meskipun melalui jalan kebaikan seperti atas nama membagikan zakat atau yang sejenisnya.

Lihat pula bagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab ketika malam-malam ia datangi sendiri secara diam-diam rumah para warga yang kesusahan. Ia kirimkan langsung apa yang menjadi haknya para kaum lemah.

Umar menjaga martabat mereka hingga tidak perlu menghinakan diri menjadi tangannya di bawah, karena hal ini akan merusak jati diri dan perasaan yang bersangkutan dan merusak pemandangan umum apalagi disorot televisi.

Aneh yang terjadi di masyarakat kita justru menjadi tontonan harian. Di mana letak kesuksesan pengendalian diri dalam hubungan kemanusiaan. Fenomena-fenomena ini rasanya telah menjadi bukti bahwa ada yang salah dalam pembelajaran agama selama ini. Sehingga terasa ada jarak antara gagasan ideal Islam dengan realitas kehidupan nyata.

Apa yang salah dari pola pembinaan dan perawatan sikap beragama kita? Seolah bangsa Indonesia tercinta ini makin terjauh dari petunjuk Alquran, meskipun di sana-sini keramaian tempat-tempat ibadah makin marak. Tetapi itu hanya seremonial belum yang esensial.

Sesuai hakikat idul fitri sebagai hari kembalinya kesadaran manusia pada fitrah kemanusiaannya, fitrah kemanusiaan kita adalah beriman bertauhid. Tauhid tidak hanya dipahami esanya Tuhan. Tauhid juga berarti satunya kehidupan dunia dan akhirat, satunya kehidupan manusia tanpa membedakan suku, ras agama maupun adat dan bahasa.

Rasullah bersabda, "Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, pasti makhluk yang ada di langit akan menyayangimu."

Ibadah puasa yang akan kita selesaikan nanti ditutup dengan kewajiban membayar zakat fitrah yang harus dibayar sebelum shalat Id. Ini mengandung sebuah tata krama dan etika bahwa kita harus mendahulukan hak kaum lemah, sebelum berdzikir kepada Allah.

Inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah dalam surat al-Ala ayat 14-15, "Qad aflaha man tazakka wa dzakarasma rabbihi fa shalla." Artinya : Sungguh berbahagia orang yang telah membersihkan diri dengan membayar zakat, lalu menyebut nama Tuhannya, dan kemudian mengerjakan shalat.

Ajaran tersebut sangat jelas menekankan pentingnya ketertiban hidup baik tertib ritual maupun tertib sosial. Melalui hidup tertib itu kenyamanan, keamanan dan kedamaian akan terwujud dengan mudah. Maka Id bagi orang berpuasa harus makin memantapkan kita meneladani sifat-sifat Allah dan nabi yang Agung.

Nabi tampil sebagai advokasi kaum lemah, tampil dengan kelembutan bukan hanya terhadap manusia tetapi juga terhadap binatang dan benda-benda mati. Oleh karena itu rangkaian Id, harus dilanjutkan dengan silaturrahim yaitu kesediaan memberi dan meminta maaf, sehingga tali persaudaraan yang renggang kembali menguat dan kokoh.

*) Ketua Program Pascasarjana Pemikiran Agama pada Universitas Islam Jakarta

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, 19 August 2010

Manfaat dan Keutamaan Berwudhu


Wudhu Mencegah Terjadinya Berbagai Penyakit Kulit

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من توضأ فأحسن الوضوء خرجت خطاياه من جسده حتى تخرج من تحت أظفاره )) رواه مسلم.

Rasulullah bersabda, "Barangsiapa berwudhu dengan membaguskan wudhu'nya, maka keluarlah dosa-dosanya dari kulitnya sampai dari kuku jari-jemarinya". HR. Muslim.

وقال أيضا: ((إن أمتي يدعون يوم القيامة غرا محجلين من آثار الوضوء، فمن استطاع منكم أن يطيل غرته فليفعل )) متفق عليه.

Rasulullah bersabda, "Sungguh ummatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhu'nya, (Abu Hurairah menambahkan) maka siapa yang mampu melebihkan panjang sinar pada tubuhnya, maka lakukanlah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ilmu kontemporer menetapkan -setelah melalui percobaan mikroskopi terhadap tumbuhnya mikroba pada orang yang berwudhu' secara teratur dan juga kepada yang tidak teratur- bahwasannya orang yang selalu berwudhu maka mayoritas hidung mereka menjadi bersih, tidak terdapat berbagai mikroba. Oleh karena itu, adanya mikroba yang menempel pada mereka hilang sama sekali ketika mereka membersihkan hidung, dibandingkan dengan orang yang tidak berwudhu' maka tumbuh pada hidung mereka berbagai mikroba dalam jumlah yang besar yang termasuk jenis mikroba berbentuk bulat dan berklaster yang sangat berbahaya ... dan mikroba yang cepat menyebar dan berkembang-biak ... dan mikroba lainnya yang menyebabkan banyak terjadinya berbagai penyakit. Dan sudah jelas bahwasannya proses keracunan itu terjadi adanya perkembangan berbagai mikroba yang berbahaya bagi rongga hidung, kemudian sampai ke tenggorokan untuk kemudian terjadi berbagai peradangan dan penyakit, apalagi jika sampai masuk ke peredaran darah!!

Oleh karena itu, disyari'atkan untuk melakukan istinsyaaq (menghirup air ke dalam hidung) sebanyak 3 kali kemudian menyemburkannya (tetap dengan hidung) setiap kali wudhu. Adapun berkumur-kumur itu dimaksudkan untuk menjaga kebersihan mulut dan kerongkongan dari peradangan dan pembusukan pada gusi, serta menjaga gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel gigi. Dan sudah terbukti secara ilmiah bahwa 90% orang yang mengalami kerusakan gigi jika saja mereka mau perhatian terhadap kebersihan mulutnya ketika dahulu rusak gigi-gigi mereka, dan adanya pembusukan yang terjadi disebabkan oleh makanan dan air liur dan bercampur dalam perut dan menuju ke darah. Dan dari darah itulah kemudian menyebar ke seluruh organ dan kemudian menyebabkan berbagai penyakit.

Dan sungguh, berkumur-kumur akan menyegarkan berbagai organ yang ada di wajah dan menjadi cerah. Dan uji-coba ini belum pernah dikemukakan oleh para dosen olah raga kecuali sedikit. Hal ini karena mereka hanya memperhatikan kepada organ-organ tubuh yang besar. Dan membasuh wajah dan kedua tangan sampai siku, serta kedua kaki memberikan manfaat untuk menghilangkan debu-debu dan berbagai bakteri, apalagi dengan membersihkan badan dari keringat dan kotoran lainnya yang keluar melalui kulit.

Dan juga, sudah terbukti secara ilmiah tidak akan menyerang kulit manusia kecuali apabila kadar kebersihan kulitnya rendah. Sebab manusia apabila lama beraktivitas tanpa membasuh anggota badanya, maka kulit akan mengalami berbagai peradangan yang menyerang permukaan kulit, seperti kudis. Dan kudis ini menyerang ujung jari-jari yang sebagian besar tidak dalam keadaan bersih, sehingga masuklah berbagai mikroba ke dalam kulit.

Oleh karena itu, bertumpuk-tumpuknya peradangan sangat mengundang mikroba untuk berkembang-biak dan menyebar. Maka, wudhu' telah mendahului Ilmu Pektrologi modern dan para pakar yang menggunakan karantina sebagai media untuk mengetahui berbagai mikroba dan jamur-jamur yang menyerang kulit orang-orang yang tidak suka dengan kebersihan, dimana kebersihan ini semakna dengan wudhu dan mandi dan dengan uji-coba dan penelitian.

Penelitian dan uji coba ini memberikan manfaat yang lain:

Bahwa kedua tangan banyak membawa mikroba yang terkadang berpindah ke mulut atau hidung apabila tidak dibasuh. Oleh karena itu, sangat ditekankan untuk membersihkan kedua tangan terlebih dahulu sebelum melakukan wudhu'. Dan ini menambah jelas kepada kita sabda Rasulullah:

(( إذا استيقظ أحدكم من نوميه فلا يغمس يده في الإناء حتى يغسلها ثلاثا ))

Apabila salah seorang diantara kalian bangun dari tudir, maka janganlah mencelupkan kedua tangannya ke bejana (tempat air) sebelum mencucinya terlebih dahulu tiga kali.


Dan sudah terbukti juga bahwa peredaran darah pada organ tangan bagian atas dan lengan bawah serta organ-organ bagian bawah seperti kedua kaki dan kedua betis adalah organ-organ yang paling lemah dibandingkan organ tubuh lainnya karena jauhnya dari pusat peredaran darah, jantung. Maka apabila kita membasuhnya diserta menggosoknya, maka akan menguatkan peredaran darah pada organ-organ tersebut sehingga membantu kita menambah tenaga dan vitalitas. Dan dari itu semua, maka terketahuilah mukjizat disyari'atkannya wudhu' di dalam Islam.

Sumber: Al-I'jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah

Muhammad Kamil Abd Al-Shomad

Dr. Ahmad Syauqy Ibrahim, Anggota Ikatan Dokter Kerajaan Arab Saudi di London dan Penasihat Penderita Penyakit Dalam dan Penyakit Jantung mengatakan, "Para Pakar sampai berkesimpulan bahwa mencelupkan anggota tubuh ke dalam air akan bisa mengembalikan tubuh yang lemah menjadi kuat, mengurangi kekejangan menjadi rileks syaraf-syaraf dan otot, hilangnya kenaikan detak jantung dan nyeri-nyeri otot, kecemasan, dan insomnia (susah tidur)". Hal ini dikuatkan oleh salah seorang pakar dari Amerika dengan ucapannya, "Air mengandung kekuatan magis, bahkan membasuhkan air ke wajah dan kedua tangan -yang dimaksud adalah aktivitas wudhu'- adalah cara yang paling efektif untuk relaksasi (menjadikan badan rileks) dan menghilangkan tensi tinggi (emosi).

Sungguh, Maha Suci Allah Yang Maha Agung

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, 18 August 2010

Menjadi pelajar KRITIS, GAUL, dan SYAR'I


Oleh : Masmulyadi * (Mantan Kabid Avokasi PP IPM)

Banyak yang bahagia dengan tahun ajaran baru. Orang tua tentunya. Dia bahagia karena anaknya dapat lulus dan melanjutkan sekolahnya di sekolah lanjutan. Bagi seorang siswa baru, kebahagiaan itu antara lain punya teman baru, guru baru dan sekolah baru. Bahagia karena lulus ujian yang merupakan ”penghalang” sebagian siswa untuk menapaki sisi hidupnya lebih jauh. Sekolah pun ikut bahagia bisa menerima murid baru dengan aneka macam watak dan karakter. Pokoke tahun baru menjadi ruang bahagia bagi yang lulus dan mendapat sekolah baru.
Siswa yang lulus dan menjadi siswa baru pada setiap sekolah tentunya menyandang predikat sebagai siswa sekolah lanjutan. Mereka yang lulus sekolah dasar (SD) melanjutkan ke tingkat pertama, sedangkan yang lulus sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) melanjutkan ke tingkat atas (SLTA). Ketika itu, maka siswa baru menyandang sebuah predikat baru sebagai kaum terpelajar.
Sebagai kaum terpelajar, maka ada semacam tanggungjawab yang berdimensi dua hal. Pertama, berdimensi pada aspek tanggungjawab untuk menjadi pembelajar yang baik. Kedua, dimensi tanggungjawab sosial, yaitu bagaimana pelajar tidak hanya menjadi pembelajar, tetapi mengembangkan nalarnya pada tanggungjawab sosial sebagai bagian dari masyarakat.
Kedua hal diatas, hanya bisa dilakukan atau diperangkan oleh seorang pelajar dengan tiga karakter utama yaitu kritis, gaul dan syar’i. Ketiga hal ini cukup menjadi ciri yang melekat pada seorang pelajar, yaitu bagaimana mengembangkan sikap kritis, mampu bergaul secara proporsional dan senantiasa dalam bingkai ilahiah.
Sebab dalam konteks dimana ruang dan waktu yang bergerak begitu dinamis. Sangat dibutuhkan ketiga karakter diatas. Seorang pelajar pada masa kini menghadapi tantangan sosial, ekonomi dan politik yang tidak sederhana. Oleh karena itu, membangun kesadaran dan respons pelajar tentang masalah sosial, ekonomi dan politik juga cukup penting. Disamping belajar dengan baik.
Oleh sebab itu, maka memasuki tahun pelajaran ini, kita semua harus senantiasa optimis dapat melaksanakan tugas kemanusiaan kita dengan amanah. Oleh sebab itu, kepada pelajar ada beberapa catatan yang harus dikembangkan.

Kenapa harus kritis?
Pelajar sebagaimana dijelaskan diatas, memiliki peran yang tidak ringan. Pelajar dalam zaman yang orang sering sebut sebagai era global memiliki tantangan sosial yang rumit. Perkembangan tersebut berdampak pada banyak dimensi. Lunturnya kohesifitas – rasa saling membantu sebagai sesama manusia – dalam masyarakat adalah salah satu implikasi dari perubahan zaman tersebut.
Mungkin kita sering mendengar ucapakan teman-teman di sekolah yang mengatakan “hari gini gak punya HP”. Itu menjadi style – gaya – sebagai effek dari perubahan zaman tersebut. Zaman yang banyak disimbolkan oleh simbol materialisme. Yaitu suatu sikap yang mengagungkan materi. Perilaku hedonis, yaitu sikap suka berfoya-foya atau bersenang-senang.
Tetentu hal diatas tidak kondusif bagi pembentukan diri pelajar, maka seorang pelajar harus memiliki tools – alat, pisau analisis – yang dapat menuntunnya memilih pilihan yang representatif untuk mengembangkan diri. Oleh sebab itu, maka diperlukan kesadaran kritis seorang pelajar. Kesadaran ini bisa diartikan sederhana yaitu kematangan personal dalam menentukan pilihan.
Mereka kemudian memilih bukan karena orang lain, bukan karena otoritas, bukan karena hasil pengalamannya semata, bukan karena kebiasaan akan, bukan pula karena konsesi tetapi karena inquirytas mereka dalam berpikir. Mereka melakukan sesuatu karena sadar bahwa itu adalah penting dan berguna. Ali Syariati mengatakan bahwa jika tidak ada proses berpikir secara sadar maka aktivisme kemudian terjebak kedalam takhyul, fanatisme dan sebagainya.
Sebagai seorang pelajar, kritisisme harus senantiasa dibangun. Sebab salah satu ciri khas yang harus menjadi simbolnya adalah kritis. Membangun kesadaran kritis bukanlah pekerjaan mudah. Sebab itu, maka melatih diri dan mengaktifkan diri pada lembaga / organisasi menjadi sangat penting sebagai wadah belajar yang cukup reflektif dalam perjalanan kemanusiaan kita. Maka berlatilah untuk merespon sesuatu yang ganjil di lingkungan sekitar lalu pertanyakan kenapa terjadi demikian? Hal – hal kecil seperti ini cukup membantu kita pada tahapan kehidupan selanjutnya.

Gaul (Populisme)
Gaul dalam hal ini hampir sama maknanya dengan fungsi integratif. Suatu kemampuan untuk bersama dengan realitas, bersatu dengan komunitas pelajar. Hendaknya pemahaman kita tentang ini bukan hanya pemahaman tentang pola konsumerisme, pola pergaulan yang bebas, perilaku bebas dsb. Kemampuan ini bukan hanya kemampuan untuk memahami tapi lebih jauh kepada proses untuk mengubah. Proses mengubah inilah yang kemudian menjadi wilayah tanggungjawab sosial pelajar.
Sebagaimana sudah dijelaskan diatas. Bahwa kita tidak lagi hidup di zaman batu yang serba tradisional. Tetapi kita berada pada zaman yang serba maju. Dilengkapi dengan berbagai macam kemudahan-kemudahan. Tetapi disisi yang lain juga melahirkan kondisi-kondisi yang tidak diinginkan. Seperti penyalah gunaan teknologi yang juga berdampak pada kemanusiaan. Itulah sebabnya para kritikus modernisasi sering mengatakan bahwa modernisasi telah menimbulkan malapetaka kemanusiaan dan lingkungan yang demikian besar.
Sebab itu harus dibangun pemahaman yang profetik (kenabian). Suatu kemampuan yang bukan hanya bersama, memiliki, empati akan tetapi dilengkapi dengan kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menatanya kembali sehingga culture syock kemudian tidak menjadi gejala yang dapat menghambat secara signifikan. Dalam hal ini kita bisa belajar dari keteladanan Nabi yang agung. Bagaimana nabi merencanakan dan mendesain dakwahnya sedemikian sehingga orang tidak meresa diganggu. Sebab kehadiran Islam adalah sebagai rahmatan lil alamin.

Bingkai ilahiah
Term ketiga yang harus senantiasa dibangun adalah syar’i, artiya sesuai dengan nilai-nilai Islam. Aktivitas kepelajaran kita harus tetap dibingkai dalam frame Islam. Atau aktivisme kita harus senantiasa dalam bingkai ilahiah. Lebih spesifiknya bahwa pelajar muslim harus senantiasa dalam terang wahyu.
Hal ini mengingat bahwa sebagai pelajar Muslim yang menjadikan Islam sebagai ruh pergerakan, ruh aktivisme dan islam sebagai pijakan. Akan tetapi bukan berarti lalu terjebak ke dalam paradigma – cara pandang – ekslusifisme – hanya untuk geolongan atau komunitasnya sendiri –, yang kemudian memandang bahwa kebenaran mutlak harus menjadi milik kita dan orang lain adalah salah.
Akhirnya ketiga terma diatas harus senantiasa dikembangkan dalam kerangka proses pembinaan yang berjalan secara terus menerus dan terintegrasi satu dengan lainnya. Sehingga pada akhirnya menciptakan satu makna dan brand pelajar Muhammadiyah yang kritis, integratif dan syar’i. Wallahu a’lam bisshawab

[+/-] Selengkapnya...